Pusat Siap Gelontorkan Dana Ratusan Miliar, Danau Maninjau Akan Tampak Cantik Lagi

  • Bagikan

HALOPADANG.ID — Keelokan Danau Maninjau tampaknya akan segera kembali hadir menyusul langkah pemerintah pusat yang akan merevitalisasi Danau Maninjau di Agam yang sepuluh tahun terakhir kian pudar keindahannya. Danau ini tak lagi menjadi pilihan banyak orang untuk berwisata karena sudah beralih fungsi dan banyak terdapat Karamba Jala Apung (KJA).

Informasi soal Danau Maninjau belakangan yang kerap muncul adalah berton-ton ikan yang mati. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan menyebutkan, revitalisasi Danau Maninjau di Kabupaten Agam, diperkirakan menelan biaya hingga Rp237 Miliar untuk proyek pengerukan sedimen sisa pakan dan kotoran ikan yang selama berpuluh-puluh tahun mengendap di dasar danau tersebut.

Baca Juga :  Ayah Ditahan Polisi Setelah Pukul Balita Hingga Terbentur ke Dindang dan Tewas

Menurut Luhut, banyaknya KJA yang belum tertata sesuai dengan daya dukung dan daya tampung danau, sehingga terjadi penurunan kualitas sumber air danau, hingga berstatus hipertropik atau tercemar berat.

Hal ini disampaikannya dalam Rapat Koordinasi Tata Kelola Danau Maninjau Sebagai Destinasi Pariwisata secara virtual bersama beberapa Menteri, Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah, Wakil Gubernur Sumbar, Audy Joinaldy, Bupati Agam, Dr. H. Andri Warman dan Sekdakab Agam, Martias Wanto serta OPD terkait, di Mess Pemkab Agam Belakang Balok, Selasa (18/05).

Menko Marves mengatakan, pada 2019 Danau maninjau telah ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Nasional (KSN) dan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN). Berdasarkan data LIPI, terdapat 22.078 petak KJA yang beroperasi di Danau Maninjau. Jumlah itu melebihi 3,5 kali lipat daya tampung.

Baca Juga :  Ayah Ditahan Polisi Setelah Pukul Balita Hingga Terbentur ke Dindang dan Tewas

“Peraturan Daerah Kabupaten Agam No. 5 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Kelestarian Danau Maninjau membatasi jumlah KJA hingga 6.000 unit, itu pun tidak bisa menjamin kelestarian Danau Maninjau,” ungkapnya.

Aktivitas budidaya KJA menyumbang 91 persen beban pencemaran di Danau Maninjau. Limbah tersebut meningkatkan kandungan nitrat dan fosfor di dalam udara sehingga status trofik air Danau Maninjau pada 2019 adalah hipertrofik (tinggi akan unsur organik).

Berdasarkan hasil penelitian LIPI pada 2017, 95-97 persen dari total volume danau kandungan oksigen sangat rendah . Oleh karena itu, hanya 3-5 persen luasan volume Danau Maninjau yang bisa menjadi tempat kehidupan biota.

  • Bagikan