Kisah Pecinta Alam yang Membangun Musala Tertinggi di Sumatera

  • Bagikan

HALOPADANG.ID –  Ini kisah bagaimana sebuah organisasi pecinta alam menselaraskan alam dengan sang pencipta. Mapala Unand, sebuah organisasi pecinta alam dari Universitas Andalas yang berinisiasi membangun sebuah musala di atas 2.500 mdpl. Di atas Gunung Talang, Solok, Sumatera Barat.

Di ketinggian itu, mereka bahu membahu membangun musala imut nan representative. Mimpi lama kabarnya. Mimpi yang sepertinya ingin membersitkan kabar bahwa pecinta alam itu bukan sekedar panjat gunung atau arung jeram. Mereka seperti ingin menunjukkan kepada khalayak, pecinta alam makhluk tuhan yang tunduk pada sang Khalik.

Impian pecinta alam dan pendaki gunung untuk memiliki tempat ibadah representatif akan segera terwujud. Insyaa Allah,  besok (Minggu, 14/2),  Rektor Unand, Prof. Yuliandri,  SH, MH bakal meresmikan MUsholla (begitu penulisan namanya-red) di Gunung Talang secara virtual.

Baca Juga :  Ketua TP PKK Kota Pariaman Angkat Bicara Soal Anak di Masa Pandemi

Dilaporkan, hingga malam ini,  pengerjaan dikebut. Mereka saling berburu untuk proses finishing dan masih berlangsung. Sejumlah pendaki gunung yang dimotori Mapala Unand, bekerja menuntaskan tempat shalat bagi pendaki ini.

Musala mini nan indah ini berada pada posisi di alun-alun Gunung Talang yang kerap disebut “lapangan bola” di ketinggian 2.500-an. Beberapa ratus meter menjelang puncak gunung ini. Jalur pendakiannya dari Aia Batumbuak,  Kabupaten Solok.

Pendirian MUsholla ini,  diinisiasi sejak Desember 2020 lalu. Sedianya akan dibangun saat pergantian tahun di Gunung Talang. Namun lantaran larangan mendaki yang dikeluarkan bupati setempat,  pengerjaannya tertunda.

“Malam ini juga,  MUsholla ini rampung. Besok diresmikan pemakaiannnya oleh rektor Unand,” lapor Aldian dari lokasi pembangunan.

Baca Juga :  Ketua TP PKK Kota Pariaman Angkat Bicara Soal Anak di Masa Pandemi

Pembangunan MUsholla ini,  tak hanya mendapat apresiasi dari pendaki, tapi juga dari Pokdarwis Kampwuang Aia Batumbuak dan wali nagari setempat. Mereka terlibat penuh dalam me-loading material bangunan hingga ke atas gunung. (rel/HP-001)

  • Bagikan