Padang Zona Merah, Mobilitas Orang Dibatasi

zona merah
Gubernur Sumbar, Irwan Prayiino dan Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Sumbar, Jasman Rizal memberikan keterangann terkait kondisi penyebaran Covid-19, bertempat di Aula Kantor Gubernur, Selasa (1/9).

HALOPADANG.ID–Lonjakan kasus Covid-19 yang signifikan dalam seminggu terakhir membuat Kota Padang akhirnya ditetapkan sebagai zona merah. Imbasnya, Kota Padang diminta kembali menerapkan pembatasan mobilitas orang.

Di lain pihak, pembatasan selektif di sembllan titik perbatasan Sumbar telah kembali diterapkan, dengan penekanan terhadap pendatang yang berasal dari daerah zona merah.

Gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno menyatakan, secara keseluruhan, Sumbar termasuk kategori sedang dalam penyebaran Covid-19. Kota Padang, sementara itu, masih menjadi satu-satunya daerah di Sumbar yang termasuk ke dalam zona merah dengan tingkat penyebaran tinggi.

“Saat ini, baru Kota Padang yang ditetapkan sebagai zona merah. Hal ini lantaran tingginya tingkat penyebaran Covid-19 di Kota Padang. Sedangkan daerah-daerah lainnya masih beragam dari zona hijau sampai zona oranye,” katanya saat konferensi pers di Aula Kantor Gubernur, Selasa (1/9).

IP menyebut, ada sebanyak lima daerah di Sumbar yang ditetapkan sebagi zona oranye dengan tingkat penyebaran sedang, yakninya Kabupaten Solok, Kota Bukittinggi, Kabupaten Tanah Datar, Kabupaten Agam, dan Kota Solok. Kemudian, sebanyak 12 daerah lainnya, yakni Kabupaten Solok Selatan, Kabupaten Pasaman, Kabupaten 50 Kota, Kota Padang Panjang, Kota Payakumbuh, Kota Pariaman, Kabupaten Padang Pariaman, Kabupaten Dharmasraya, Kabupaten Sijunjung, Kabupaten Pesisir Selatan, Kabupaten Pasaman Barat, Kabupaten Solok saat ini berstatus sebagai zona kuning dengan tingkat penyebaran rendah.

“Hanya ada satu daerah yang hingga sekarang masih berstatus zona hijau atau tiidak mencatatkan kasus sama sekali. Daerah itu adalah Kabupaten Kepulauan Mentawai,” ujar gubernur dua periode itu.

IP mengungkapkan bahwa lonjakan kasus Covid-19 di Sumbar terjadi bukan lantaran Pemprov Sumbar mengakhiri masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan memulai Tatanan Normal Baru Produktif dan Aman Covid-19 (TNB-PAC) atau new normal. Justru, ketika awal penerapan TNB-PAC, kasus Covid-19 di Sumbar masih terbilang rendah. Penambahan kasus, ucapnya, baru meledak saat momen Idul Adha 1441 Hijriah.

“Saat momen Idul Adha, banyak perantau kita yang pulang kampung. Hal inilah yang kemudian menyebabkan meledaknya kasus Covid-19 di Sumbar,” katanya.