ISI Padang Panjang Putar Film Kereta Api Terakhir Hasil Restorasi 2019

film
film hasil restorasi 2019 di Gedung Prodi Film dan Televisi kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang, Kamis, (13/8).

HALOPADANG.ID–Guna menjaga ketersedian artevak sejarah berbentuk visual, Direktorat Film Musik dan Media Baru (FMMB) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI mensosialisasikan arsip film hasil restorasi 2019 di Gedung Prodi Film dan Televisi kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang, Kamis, (13/8).

Anggota Pokja FMMB Kemendikbud RI, Rober Mc Namara mengatakan, bahwa sosialisasi tersebut bertujuan untuk memberikan pemahaman begitu pentingnya langkah restorasi untuk menyelamatkan arsip film-film yang lama agar tidak hancur atau hilang termakan usia.

Saat ini kata Rober, Pokja Direktorat Perfilman Kemendikbud telah mengantongi sebanyak 60 film seluloid yang akan dialihmediakan menjadi film digital.
Melalui restorasi yang dilakukan pihak perusahaan Render Digital Indonesia, film-film seluloid yang mengalami kerusakan, itu kembali dapat ditonton sebagai salah satu artevak sejarah berbentuk visual.

“Film yang kami dapatkan dari Pusat Film Nasional (PFN) tersebut, hingga saat ini baru 4 judul yang telah selesai dilakukan alihmedia melalui upaya restorasi. YaKni film Ketera Api Terakhir, Darah dan Doa, Bintang Kecil dan film Pagar Berduri. Sehingga kembali dapat disaksikan generasi milenial seperti sekarang ini,” ungkap Rober di sela-sela pemutaran film perjuangan Kereta Terakhir.

Rizka Fitri Akbar dari Render Digital Indonesia, menyebut tindakan restorasi merupakan satu langkah terakhir yang dilakukan guna penyelamatan sejarah bangsa melalui perfilman.

Film-film seluloid merupakan bagian bukti otentik perjalanan peradaban bangsa, yang dilahirkan anak bangsa untuk dapat diketahui generasi selanjutnya.

Bersama dengan 5 rekannya, Rizka mengaku dalam melakukan restorasi 4 judul film seluloid tersebut, harus menjalaninya dengan sabar. Terutama dalam restorasi fisik untuk 177 ribu frame pada satu film, yang membutuhkan waktu rata-rata mencapai 180 hari.

“Restorasi ini tidak mengubah karya film tersebut. Namun hanya menyelematkan bukti sejarah yang dibuat pada masa itu melalui suatu film dengan masih menggunakan seluloid.

“Perubahan hanya terpotongnya adegan jika restorasi fisik tidak dapat dilakukan akibat seluloid yang mengalami kerusakan parah,” ucap Rizka didampingi Hery Sasongko dari Prodi Film dan Televisi ISI Padang Panjang.