Puji China, Luhut Kritik Para Pengkritik

Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan

HALOPADANG.ID — Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan memuji kedahsyatan ekonomi China. Menurutnya, China saat ini menjadi negara yang harus diperhitungkan oleh dunia, karena kemajuan yang begitu pesat bahkan di era pandemi Covid-19.
“Ekspor China jatuh tapi sekarang dia rebound lebih cepat. Anda lihat begitu di kuartal ketiga dia rebound sampai 6% (ekonomi),” kata Luhut dalam pidato ilmiah peringatan Dies Natalis IV Sekolah Kajian Stratejik dan Global (SKSG) Universitas Indonesia, Jumat (14/8/20).

Ia menyayangkan masih banyak orang Indonesia malu mengakui kehebatan China. Luhut bilang, banyak orang di tanah air lebih sibuk membicarakan China terbatas pada sistem pemerintahannya saja yang menerapkan komunisme.

“Kadang kita ndak mau mengakui itu, kita sibuk ngomongin slogan komunis. Komunisme itu memang dia perlukan untuk negara dia, karena kalau tidak 1,4 miliar penduduk dia itu tidak akan bisa menjadi satu,” katanya.

Konsekuensi tidak banyak kritik yang terlontar dari warga China ke pemerintahannya karena sistem komunis. Di sisi lain, ada hasil positif yang dituai dari kebijakan yang diterapkan menjadi mudah pelaksanaannya.

“Dan itu yang harus dilakukan sehingga tidak ada kritik-kritik yang tidak perlu, mereka bisa fokus dan pemerintah men-deliver. Sehingga tingkat kemiskinan yang diselesaikan di China itu lebih besar, dibandingkan negara negara di dunia,” katanya.

Menurutnya, semua itu diraih lantaran China punya kekompakan antara rakyat dan pemerintahannya. Selain itu, dia menegaskan bahwa tingkat kedisiplinan di China tergolong tinggi.

“Ini kenapa? Disiplin. Ini apa? Kebersamaan. Ini apa? National interested. Kita harus memiliki hal semacam itu. Jadi kalau kita tidak satu, kita masih mengkritik ini kurang, ya memang kurang. Siapa yang bilang baik, ndak ada lah. Apa di pemerintah itu banyak nggak benar dan nggak dengan hati?” keluh Luhut.

Padahal, dikatakannya bahwa belum tentu si pengkritik punya data dan bahan informasi yang komprehensif. Namun sudah terburu melontarkan kritik secara panjang lebar.

“Saya sedihnya kadang-kadang melihat intelektual kita itu hanya melihat sepotong sepotong terus langsung memberikan komentar. Kami kan punya informasi yang paling lengkap. Jadi proses pengambilan keputusan nggak akan mungkin orang lebih baik dari kami. Kalau dikerjakan itu dengan baik,” katanya.