Guru Ngaji Cabuli Murid saat Baca Alquran, Orang Tua Ngamuk

Ilustrasi anak trauma

HALOPADANG.ID — Seorang guru mengaji berinisial AN (60), dilabrak orang tua murid di Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, setelah diduga mencabuli sejumlah anak yang menjadi muridnya.

Bahkan, ibu korban yang emosi mengetahui hal itu langsung mendatangi rumah AN. Ibu korban mengamuk dan menyerang pelaku serta meminta aktivitas pengajian yang dilakukan AN diberhentikan.

“Si ibu langsung lapor ke RW, terus ditemani sama RW ke rumahnya terduga pelaku. Di sana diseranglah, karena ibunya dalam keadaan emosi. Sudah tidak mengajar. Pak RW sudah menghentikan kegiatannya itu,” kata E, nenek salah satu korban.

E menceritakan, kasus pencabulan tersebut awalnya diketahui ibu korban pada akhir Juli 2020. Itu pun lantaran ibu korban mencurigai perilaku anaknya yang tidak mau lagi pergi ke tempat pengajian AN. Padahal, kata dia, hari-hari sebelumnya, cucu nenek E tersebut tampak begitu rajin dan bersemangat untuk belajar mengaji. Melihat hal itu, ibu korban kemudian berusaha membujuk anaknya agar dapat pergi mengaji. Hanya, bujukan ibu korban tidak membuahkan hasil. Anak korban tegas menolak permintaan ibunya, dengan alasan telah dicabuli AN yang tak lain adalah guru mengajinya sendiri.

“Iya berubah perilakunya. Kan dia masuk mengaji di situ satu minggu. Pas setelah satu minggu, dia tidak mau pergi mengaji,” kata dia.

“Pertamanya dia semangat pergi mengaji. Tidak ada masalah, tenang-tenang saja, kenapa tiba-tiba berubah? Kenapa ini anakku? Ada apa? Bertanyalah ibunya. Dibujuk-bujuk sama ibunya, anaknya mengaku kemaluannya dipegang-pegang saat baca Alquran,” E menambahkan.

E mengakui belum dapat memastikan berapa banyak anak yang sudah jadi korban pencabulan pelaku. Alasannya, anak-anak yang belajar mengaji di tempat AN banyak yang trauma sehingga tidak mau bicara.

“Jumlah pastinya tidak bisa kita sebut ya, karena banyak yang tidak mau bicara gitu. Iya (trauma), jadi kalau mau pastinya itu, tadi yang lapor. Tapi kalau misalnya dugaan saja ada belasan,” ungkap E.

E mengemukakan, awalnya kasus dugaan pencabulan tersebut di laporkan ke Polsek Biringkanaya. Namun, karena di sana tidak memiliki Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA), kasus tersebut akhirnya dilaporkan ke Polrestabes Makassar untuk ditangani.