Geger Lagi, Kepala Sekolah di Padang Pariaman yang Telantarkan Orang Tua di Gubuk, Kini Disebut ‘Pelakor’

Foto viral nenek Rakena yang disebut ditelantarkan anaknya di Padang Pariaman

HALOPADANG.ID — Heboh soal seorang kepala sekolah di Padang Pariaman yang menelantarkan orang tua sendirian di rumah tak layak huni Juli lalu sempat meredup. Namun berita tersebut minggu ini muncul lagi ke permukaan, bahkan semakin panas dengan munculnya isu dugaan perbuatan kurang beretika kepala sekolah SDN 01 Padang Sago yang berinisial K tersebut.

Berita itupun akhirnya sampai ke telinga Bupati Padang Pariaman, Drs. H. Ali Mukhni setelah mendapat laporan Wali Nagari Batu Kalang, H. Jamarusti.

Demikian disampaikan Anggota Bamus Nagari Batu Kalang, Drs. Jamawir yang mendampingi Wali Nagari Batu Kalang menghadap Bupati Padang Pariaman, Ali Mukhni, Senin (3/8/2020).

Menurut Jamawir, Ali Mukhni langsung memanggil Sekda Padang Pariaman, H. Jon Priadi, SE, MM dan Kepala BPSDM Armen Rangkuti, memerintahkan kepada Sekda Jon Priadi untuk “mencopot” atau memindahkan K dari SD 01 Padang Sago.

Ditambahkannya, K selaku Kepala SD 01 Padang Sago, tidak layak lagi disebut sebagai seorang pemimpin, karena tingkah lakunya tidak mencerminkan seorang pemimpin, karena sering membawa tamu laki-laki ke sekolah. Kehadiran tamu laki-laki di ruangan kantor kepala sekolah dianggap sudah menyimpang dari tata krama.

Cerita ini terungkap setelah Wali Nagari Batu Kalang Kecamatan Padang Sago, H. Jamarusti mengundang para majelis guru, komite sekolah, orang tua murid dan Wali Korong Puncu Ruyung, Agus Salim serta beberapa orang tokoh masyarakat, Senin (3/8/2020).

Menurut Faridah, S.Pd, guru agama di SD 01 Padang Sago, K dalam memimpin sekolah menganggap majelis guru, tidak sebagai seorang guru tetapi menganggap sebagai “budak” sering dihardik dan dimarahi. Seperti saat meminta tanda tangan kepala sekolah untuk mengurus kenaikan pangkat berkala. Sebelum ditanda tangan diberikan, K marah-marah dan mencaci-maki dirinya di depan majelis guru lain, sehingga Faridah mengaku sering berurai air mata.

“Karena sering dimarahi dan dicaci, saya tidak lagi mengurus kenaikan pangkat berkala. Saya tidak tahan rasanya kita seorang guru diperlakukan sebagai pesuruh dan pembantu tidak ada harga dimatanya,” ujar Faridah bercerita dalam pertemuan di Kantor Nagari batu Kalang.